Dua Puluh Satu

Nusa Kambangan, 4 Juli 1996

Istriku Ami,

 

Suratmu kuterima tadi sore. Sebenarnya sudah tiba sejak siang, namun karena aku sendiri sedang berada sepanjang tengah hari di ladang tembakau membuatku baru dapat membacanya di kala sore ketika pulang bekerja. Dan kini, aku menuliskan surat balasan ini sembari menghabiskan makan malamku. Makan malam berupa sepiring nasi, tempe goreng, dan sup tawar yang dibuat dengan setengah hati: kubis dan wortel dipotong kecil – kecil dan kaldu yang terlalu banyak air hingga rasanya jadi seperti batu karang rebus dan dibumbui merica. Memberikan kombinasi rasa panas dan asin yang aneh.

Belakangan ini, keadaanku semakin baik. Aku sering bekerja di ladang dan sering sekali berjalan – jalan di hutan kecil di sekitar pulau bersama dokter Salahuddin, membantu mencari daun – daun untuk pengobatan. Apalagi pasokan obat ke sini sering terlambat, sedangkan tahanan rentan terhadap penyakit, hingga beliau menggunakkan obat kampung untuk menunda rasa sakit bagi para pasien. Karena dokter sangat disegani di sini, maka akupun mulai mendapat perlakuan yang baik. Beberapa sipir mulai berteman denganku, walau mungkin hanya sebatas sapa dan menemani menghisap rokok sambil bercerita tentang keadaan di luar atau mengenai keluarga mereka. Entahlah, kenapa perubahan sikap ini datang cukup cepat. Aku pikir, ini mungkin karena kedatangan Ali ikut mempengaruhi, entahlah, apakah Cuma semacam sandirwara untuk melunakkanku atau memang benar begitu. Aku tak ambil pusing.

Kedatangan Ali kemarin cukup membuatku tenang, dia memberikan informasi dan diceritakannya mengenai dunia luar. Bahwa untuk sementara waktu, aku tak perlu takut akan keselamatan dirimu. Namun, sepertinya Ali semakin diperketat setiap kali hendak masuk ke sini. Dia hanya diberbolehkan bercakap – cakap denganku tanpa boleh membawakan alat perekam, bahkan buku catatan kecil pun tak luput dilucuti. Tapi besar harapku, semoga itu tak mencegah daya upaya demi mengeluarkanku dari sini. Lebih daripada itu, bahwa seluruh dunia harus tahu tentang betapa kejinya penguasa.

Mungkin, itu saja yang bisa kuceritakan padamu mengenai seminggu belakangan ini. Aku mau menghabiskan makanan ini dan cepat – cepat kembali ke sel. Tubuhku letih sekali, namun setiap kali aku menuliskan surat padamu, ada semacam riak kecil di dalam batinku yang dipenuhi kesenangan. Mungkin rasanya seperti anak kecil yang diberikan gula – gula, merasa senang dalam diam mencecap manisnya tanpa perlu bertanya mengapa.

Aku harap kaupun di sana dalam keadaan baik – baik saja, kabari terus keadaanmu, karena itu sungguh sangat membantuku di sini.

Aku yang masih ingin merindukanmu seperti sedia kala.

 

Suamimu, Michael.

 

 Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s