Dua Puluh Tiga

Nusa Kambangan, 19 Juli 1996

Istriku Ami,

Dapat kulihat begitu banyak cemas dan takut yang terselip di setiap kalimat dari suratmu itu. Entah dengan apa dapat kujamin keselamatan guna menenangkan gelisah hatimu. Tapi tenanglah perempuanku, seperti yang sudah kukatakan kemarin, bahwa beberapa hal semakin baik di sini. Untunglah aku sendiri tidak terlalu keras kepala. Dan memang hidup manusia itu haruslah belajar dari layang – layang; ketika angin sedang kuat-kuatnya, kita harus hanyut. Dan ketika tiada, benang harus kita hentakkan sekeras – kerasnya agar tetap mengudara. Karena kalau tidak begitu, pastilah kini tubuhku telah menjadi humus di suatu tempat yang tak seorangpun tahu.

Nusa Kambangan yang sepi di kala sore menjadi kotak raksasa bagiku. Karena hubunganku yang baik dengan sipir – sipir, kini aku diperbolehkan menjual cinderamata batu ali dan makanan kecil bagi para pengunjung pulau. Sesekali, setelah setengah hari aku berjualan, aku menghabiskan sore di pantai –yang di batu karangnya ada pisau besar yang menancap- sembari mengira – ngira tentang apapun yang sedang terjadi di pulau seberang. Mengingat waktu ketika menjadi mahasiswa, pertama kali berkenalan dengan bacaan – bacaan yang membuatku muak dengan kesewenang – wenangan. Hingga kini, apa yang sudah kubaca di sana mengejawantahkan isinya ke dalam diriku. Kesakitan dan penindasan, kini aku rasakan pula. Nun aku sadar benar, kenyataan seribu kali lebih pahit dari apa yang ada di buku. Dan berada di sini semakin menajamkan firasat sebagai manusia. Kini aku tak lagi heran mengapa tulisan – tulisan Pramoedya atau Tan Malaka begitu bergelora. Manusia yang kiranya selamat (tubuh dan pikirannya) dari kurungan dan tekanan seperti ini, harusnya tak lagi keluar sebagai manusia yang biasa – biasa saja.

Sesekali pula, aku duduk dan menyepi di deretan bakau di beberapa sudut pantai sembari membaca surat – surat darimu. Walaupun nanti meletup rasa cemburu di beberapa tempat. Tetapi harus aku akui bahwa rindu yang tak lagi sekadarnya akan melumat habis cemburu.

Mengenai Ali, entah mengapa, beberapa hari belakangan ini dia belum datang lagi kemari. Mungkin dia sibuk, atau entahlah. Sekiranya aku sebisa mungkin tak mau memikirkan hal yang dapat menyusahkanku dan engkau juga.

Apapun yang engkau lakukan di sana, aku harap engkau tetap baik – baik saja. Karena aku di sini akan selalu sama, perempuanku; manusia yang aku rindukan dengan seluruh penuh: Amirah.

 

 

 

Suamimu, Michael.

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s