Di Samping Terowongan Casablanca, 04 Februari 2014

Kepada anakku kelak,

Anakku, semoga nanti ketika engkau mendapati surat ini engkau sudahlah cukup besar untuk memahami dirimu yang ternyata begitu kecil di hadapan alam yang maha luas ini. Aku menulis ini untukmu hanya sebagai tanda bahwa jikalau nanti engkau berjumpa dengan kegetiran hidup maka sesungguhnya aku pernah menuliskan sesuatau padamu.

Anakku, ketika aku remaja hidupku hanyalah diisi kebosanan akibat aku yang terlalu ingin menjadi seperti apa yang orang kebanyakan inginkan. Ayahku, opamu, menitipkan banyak petuah kepadaku. Inginnya adalah supaya aku kelak menjadi anak yang sama seperti dirinya. Namun kepadamu aku ingin menitipkan pesan bahwa jika kelak engkau beranjak dewasa, berusahalah untuk menjadi dirimu sendiri. Pergilah sejauh kaki membawamu. Masuklah ke dalam perjalanan-perjalanan dan ciptakanlah petualanganmu sendiri. Sebab sejauh apapun pergimu, engkau tak akan akan menemukan apapun selain dirimu sendiri. Alam dan tuhanmu yang maha besar itu akan mempertemukan engkau dengan dirimu sendiri. Ia akan membuatmu mengerti tujuanmu hadir di dunia. Maka jika kelak engkau berhadap-hadapan dengan dirimu yang sesungguhnya, janganlah engkau menjadi takut. Aku pun pernah mengalami itu. Sejauh perjalananku aku tak mendapatkan apa-apa selain diriku sendiri yang ternyata begitu kecil. Alam membukakkan pintu-pintunya bagiku untuk memahami diriku sendiri.

Lalu pesanku yang lain, berusahalah untuk membuat dirimu tahan banting di hadapan pengetahuan yang begitu jamak. Dulu di rumah orang tuaku, mereka menjejali rak-rak bukunya dengan ribuan judul buku. Aku masih ingat betapa ayahku bersedih dan patah semangatnya ketika buku-bukunya terbakar ketika kampungmu dilanda perang. Opamu menghabiskan hampir semuanya hartanya di buku-buku. Ia mewariskan ribuan judul buku miliknya kepadaku dan aku bersyukur akan hal itu. Buku adalah jendela jiwa. Ia menjernihkan pikiranmu dari distraksi alam sekitar yang menyesatkanmu hingga tak tentu arah.

Dulu sekali, ayahku mengenalkan aku pada sebuah buku tentang petualangan prajurit Apache. Aku membacanya bergantian dengan saudara-saudaraku yang lain. Masa kecil kami menjadi bahagia sebab aku dan kakak adikku menganggap bahwa kami adalah juga Apache yang tersesat di belantara Basuki Rahmat gang 12 Malang, Jawa Timur. Mungkin lucu kedengarannya, tapi gang itu kami taburi dengan imajinasi sehingga ia seperti padang perburuan bison yang setiap harinya kami jelajahi seluk beluknya. Maka sekali lagi pesanku padamu, tekunlah membaca jika kelak tuhan membuat mata dan pikiranmu luas dan sejernih lautan seperti samudra maha luas di Maluku, tanah kelahiran aku dan nenek moyangmu.

Mengenai perempuan, aku tak ingin meninggalkan pesan yang membuatmu kaku jika harus berhadapan dengan mereka. Namun aku hanya ingin mengatakan bahwa, perempuan adalah temanmu. Jikalau nanti hatimu telah terpaut pada satu perempuan, maka cintailah dia seperti layaknya ia perempuan terakhir di bumi ini. Sebab perempuan adalah tentang bagaimana engkau sebagai lelaki mempercayakan hidpumu untuk dijaga olehnya, demikian juga sebaliknya. Janganlah berbuat kasar terhadap mereka, sebab sejarah hidup perempuan adalah tentang perjalanan rasa sakit sepanjang hidup mereka. Rahim mereka menelan begitu banyak rasa sakit untuk menghadirkan kehidupan bagimu kelak. Hati mereka menelan pedih yang kadangakala mereka simpan begitu rapat sehingga yang kau tahu hanyalah senyum dan cinta yang muncul di permukaannya. Maka jika nanti kau temukan temanmu itu, cintailah dia sedalam dan sekuat yang kau bisa. Jikalau engkau harus menyerah maka menyerahlah pada kehendak tuhan yang kuasa dan bukan pada kehendakmu sendiri.

Kemudian anakku, pesanku yang lain adalah janganlah engkau takut jika nanti hidupmu tak begitu penuh dengan banyak harta. Sebab aku pernah mengecap hidup penuh kemudahan dan uang. Hidup seperti itu akan membuatmu kehilangan kekuatan untuk merelakan sedikit saja tali nafasmu diatur oleh alam dan tuhamu. Harta membuat hatimu kerdil, menggelapkan matamu serta menutupi jiwamu dengan selumbar-selumbar yang membuatmu tak tahan banting. Belajarlah dari orang-orang kampung yang mana mereka berbahagia dengan kemewahan yang alam berikan kepada mereka. Lihatlah betapa alam mengasihi mereka dengan memberikan hidup yang begitu keras sebab mereka harus merawat alam agar supaya diberi makan olehnya. Biarkanlah alam mengajarkanmu cara untuk saling merawat dan menjaga. Maka sesungguhnya engkau akan menjadi anak yang berbahagia.

Hari ini, aku menuliskan surat pendek ini untukmu. Esok ketika aku bangun nanti untuk berhadapan lagi dengan hari baru yang alam berikan kepadaku, maka aku akan menuliskan lagi sepucuk surat untukmu. Baik-baiklah kepada sekitar dan dirimu sendiri. Semoga tuhan merahmatimu dengan segala baik dari kebesarannya yang maha agung.

Salam sayang,

nb : Makanlah makanan yang baik dan jika hari hujan, keluarlah dari bawah atapmu untuk menikmati butir-butirnya agar supaya sejuk jiwamu.

 

Oleh: Manusia yang pada suatu waktu tampil sebagai Kierkedog. Anjing Eksistensialis. Tulisan ini aku posting di sini karena pertama, aku suka; kedua, semoga ada yang membacanya lagi, dan lagi, dan lagi, dan seterusnya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Samping Terowongan Casablanca, 04 Februari 2014

  1. keluarlah dari bawah atapmu untuk menikmati butir-
    butirnya agar supaya sejuk jiwamu.

    hati² masuk angin gan:mrgreen:

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s