Pahlawan

Seluruh penduduk Desa Kami bergeming. Dari kepala desa, tokoh agama, hingga komunitas ibu-ibu pencinta gosip tak satu jua berani membuka mulut dan membantah kepala penyamun itu. Sosoknya yang besar dan garang sambil menenteng kelewang panjang di tangan kanannya menyebarkan aroma mencekam yang menegangkan roma.

Penjahat namanya, raja di atas segala raja penyamun yang kesehariannya adalah menarik upeti dari desa – desa kecil. Upeti yang ia tarik biasanya berupa emas, ubi, kambing, dan anak gadis. Naas, hari ini adalah giliran kampung Kami, sejak sore mulai menyingsing, sang Penjahat bersama dua orang anak buahnya; Tangan Kanan dan Tangan Kiri telah tiba di Desa Kami. Tak satu pun yang menyangka kedatangan mereka ke desa kami walaupun desas – desus tentang sepak terjang Penjahat di Desa Sebelah telah tersiar di desa kami beberapa hari yang lalu.

Setibanya, mereka bertiga segera bertolak ke halaman depan rumah Kepala Desa. Kejadian yang menakutkan itu menjadi tontonan janda – janda agen gosip dan bocah ingusan yang kerempeng karena kurang gizi yang berkerumun dari kejauhan.

“Berikan dua puluh anak gadis perawan padaku, kalau tidak, aku akan ambil dua puluh kepala sebagai gantinya.” Ujar sang Penjahat dengan suara yang tenang berselimutkan an teror.

“Kami tidak punya anak gadis untuk tuan.” Sahut sang kepala desa gemetaran.

“Bohong. Aku tak peduli bagaimana caranya, rekan bisnis di Dolly sudah memintaku untuk mengirimkan supply secepatnya” balas Penjahat sambil mengelus – elus kelewangnya yang berkilau itu. Kedua anak buahnya berdiri di belakang sambil melihat – lihat wajah – wajah takut para penduduk Desa Kami yang jadi mirip kucing piatu itu.

Angin mendesau pelan melewati celah pohon – pohon rambutan, menerbangkan debu di sela – sela kaki ketiga orang itu, memberikan rasa takut cemas sekaligus di dalam kepala kepala desa. Bukan hanya karena mereka takut mati, tapi juga mereka bingung harus dicari di mana dua puluh gadis perawan yang tentunnya harus melewati prosedur fit and proper test lebih dulu.

Seketika dari celah pepohonan, anak panah melayang lalu menancap di dada sang Penjahat.

Penjahat terkejut melihat dadanya yang bidang seumpama bintang iklan L-Men itu dihinggapi panah. Maka, bangkitlah amarahnya karena merasa dilecehkan sekaligus sakit. Dicabutlah panah itu keluar dari dadanya disertai erangan ala beruang luka; “Keluar kau pengecut, atau tidak, satu kepala akan kutebas!”

Tak ada satu jua yang keluar dari kerumunan untuk menyerahkan diri.

Sang Penjahat berteriak keras dan berlari ke arah Kepala Desa, kelewang telah mantap di tangan kanannya tak sabar ingin menebas kepala sang kepala desa. Kelewang diangkat tinggi – tinggi melewati kepalanya yang ditutup rambut tebal dan jarang dikeramas itu, Kepala Desa menutup mata sambil mencari – cari kata terakhir dalam hidupnya.

Darah mengucur deras dari rongga dada si Penjahat yang telah bolong itu. Sekejap sebelum kelewang ditebas, si Penjahat rubuh, kekurangan darah. Si Tangan Kanan dan Tangan Kiri lari pontang – panting karena ketakutan menjadi sasaran berikutnya.

Si penjahat yang telah rubuh dan lemas itu tersungkur. Ada perasaan sesal menghinggapi dadanya, merasa dikhianati oleh Rambo yang tak kehabisan darah waktu mencabut panah tentara Vietnam dari badannya. “Sialan kau, Rambo. ” gumam si Penjahat. Dia lalu mati lemas. Semua orang diam terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.

***

Keheningan yang menyelimuti penduduk Desa Kami dipecahkan oleh Jagoan yang muncul dari antara kerumunan dengan wajah penuh keringat,

“Eh?” sahutnya kepada Kepala Desa yang sedari tadi terdiam karena masih memikirkan mayat Penjahat ini baiknya diapakan; direbus atau dipanggang dengan bumbu kecap.

“Anak panah itu milikmu?” jawab sang Kepala Desa sambil menatap ke arahnya dengan wajah bingung karena kini bertambahlah beban pikirannya. Tak disangkakan bahwa anak panah yang sudah membunuh kepala penyamun kondang itu ternyata berasal dari bocah ingusan yang belum genap dua puluh tahun, cacingan, dan tak bisa baca tulis.

“Iya.” Jawabnya. Lalu, mata si Jagoan berpindah ke tubuh yang tersungkur di depan kaki sang Kepala Desa. Dia berjalan maju, lalu memungut anak panah yang digenggam mayat itu. Dia memeriksa mata panahnya sebentar, lalu hendak berlalu.

“Tunggu dulu, nak.” Seru sang Kepala Desa. Dengan nada yang lirih karena menahan haru, hidupnya telah terselamatkan.

“Kamu telah menyelamatkan seisi desa ini, juga desa – desa lainnya.” Lanjutnya.

“Oh.” Gumam si Jagoan.

Kemudian, dari antara gerombolan penduduk yang sejak tadi diam menatap kejadian itu, terdengarlah pekikan: “Jagoan adalah Pahlawan kita, mari kita rayakan!”

Penduduk desa beserta Kepala Desa yang sejak tadi terdiam karena diliputi rasa bingung dan senang seketika meledak bersuka ria, melebur dalam suatu gelombang perayaan kemenangan yang gegap gempita. Kepala Desa tak ketinggalan ikut melebur ke dalam kerumunan warga yang telah melonjak kegirangan, dan berteriak kencang: “Keluarkan anak – anak gadis , minuman, dan segala makanan kalian, senangkanlah pahlawan kita, Jagoan! Mari kita bersuka-ria atas kemerdekaan ini!”

Seketika, Desa Kami yang pada beberapa saat lalu menjadi biru karena dicengkram rasa takut, berubah wujud menjadi panggung pesta akbar. Di mana – mana terdengar musik trance ala dangdut pantura dengan lirik riang, suara tawa ibu – ibu yang melenyapkan tangis bayi kurang gizi, dan tentu saja kegaduhan para peminum tuak.

Si Jagoan yang mendadak menjadi idola itu, dipanggul keliling desa dalam arak – arakan. Kemudian dihadiahi 10 anak gadis yang jelita baginya oleh Kepala Desa.

“Kalian, para gadis, layanilah ia. Berikan apa saja yang ia mau.” Sebut Kepala Desa kepada anak – anak gadis itu.

Tak lupa, tokoh agama Desa Kami ingin ikut serta memberikan hadiah kepada si Jagoan. Merasa diri dan suraunya terselamatkan oleh karena peran Jagoan, maka di hadapan khayalak ramai berkatalah ia, “Dengan terselamatkannya Desa Kami yang juga artinya berakhirlah penjajahan para penyamun, aku menghadiahi jaminan dunia akhirat kelas VVIP kepada pahlawan kami ini! Dunia akhirat dengan fitur WIFI 1 Terabytes, seratus perempuan tercantik di dunia, AC, dan makanan kelas restoran bintang lima ala Eropa tanpa syarat!”

Para penduduk yang sedang larut di dalam perayaan dan mendengar persembahan dari tokoh agama itu pun bersorak dan bertepuk tangan dengan kencangnya. Pesta itu berlanjutlah.

***

Setelah perayaan yang berlangsung selama tiga hari tiga malam itu selesai, pulanglah Jagoan ke gubuknya di ujung desa. Masuklah ia lalu menaruh sekarung penuh uang emas hadiah dari para penduduk lalu kemudian duduk menekur di dipan. Tak lama kemudian, peliharaannya; Anjing, muncul dari belakang pintu lalu datang dan mengelus – elus kepalanya yang berbulu kasar itu ke kaki Jagoan.

“Maafkan aku, Njing. Dua hari lalu aku sedang berburu kuntul di pinggir desa. Panahku meleset. Kau belum makan kan? Koin – koin emas itu tak bisa dimakan. Sialan. Tunggulah, aku akan keluar mencari katak untuk kita rebus saja malam ini.”

Don’t make people into heroes, John. Heroes don’t exist, and if they did, I wouldn’t be one of them. -Sherlock, Sherlock Series BBC

– Salatiga, 2014

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pahlawan

  1. Oh,ternyata tak sengaja jadi pahlawan gitu ya..

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s