Blusukan

Pada sebuah waktu di masa entah, kala pengetahuan telah dapat menterjemahkan kebenaran dalam bentuk-bentuk ilmiah, meletuslah sebuah perang dahsyat di muka bumi. Perang besar ini terjadi antara dua kubu: Kubu Pengetahuan melawan Kubu Relijius yang masih berpegang pada nilai-nilai ke-Tuhan-an.

Maka, di tengah perang yang hebat itu, pihak Relijius terdesak hebat, karena sebagian besar wilayah yang dahulu mereka miliki direbut dan ditelanjangi oleh kelompok Pengetahuan (dibantu oleh bom nuklir buatan ilmuwan – ilmuwan Jerman yang atheis itu!). Tak ayal, Tuhan, sebagai komandan perang tertinggi pihak Relijius mau tak mau harus turun tangan untuk menghentikan perang kurang kerjaan ini.

Di tengah malam buta, Tuhan turun dari surga yang gilang-gemilang itu ke bumi yang tiga per empat langitnya telah ditutupi asap. Dengan tanpa basa-basi dan karena berada dalam masa genting, Tuhan tak menyamar menjadi siapa-siapa, Dia turun ke bumi dalam keadaan sebagaimana-adanya Dia demi membalikkan keadaan kelompok Relijius yang sudah semakin terdesak itu. Tuhan berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu dan mengumpulkan para pendukungNya.

Pertama-tama, Tuhan turun ke perkampungan kumuh, tempat yang diyakininya masih begitu mencintaiNya dengan seluruh perasaan dan pikirannya. Ketika mengetuk pintu salah satu rumah di perkampungan itu, pada tengah malam, sang pemilik rumah segera membuka pintu dan menyambut Tuhan dengan potongan besi, dikiranya preman yang mau menagih ‘uang keamanan’, namun, Tuhan segera menunjukkan ‘wajahNya’, dan kemudian dengan segala kemampuan persuasifnya, Dia menjelaskan tujuan dan maksud kedatanganNya kepada orang itu.

Setelah mendengar panjang lebar penjelasan, Tuhan memintanya untuk bergabung dengan pasukannya demi melawan pasukan Kubu Pengetahuan yang sudah semakin merajalela. Setelah berpikir sejenak, orang yang membuka pintu tadi terdiam sebentar dan menjawab, “Ya Tuhan, Kau tahu, aku cinta kau, tapi aku punya dua anak yang harus kuberi makan. Andaikan aku harus turun ke medan perang, dan kemudian terjadi sesuatu apa di sana, siapa yang akan menjaga anak-anakku nanti? Bukankah, menjaga dan merawat anak adalah bagian dari caraku mencintai Engkau?”

Tuhan tidak puas dengan jawaban itu, lagipula, Ia tak punya cukup banyak waktu untuk berdebat, mengingat keadaan perang yang terjadi terus menerus seperti tiada jedanya ini. Maka Tuhan pun keluar dari rumah itu dan memilih untuk pergi mencari orang lain yang dapat membantunya.

Setelah berjalan sebentar, Tuhan teringat dengan Mahatma Gandhi (yang pada tahun-tahun itu sedang ada di puncak teratas Chart Musik MTV genre: Folk), maka dalam waktu segera, pergilah Ia menuju tempat tinggal si bocah botak tersebut. Setelah tiba di tempat tinggal vegetarian yang gemar memintal benang itu, segeralah Tuhan menyampaikan maksud dan tujuannya.

Gandhi terbengong-bengong melihat penjelasan dari Tuhan. Maka, Gandhi dengan berat hati hanya bisa menjawab Tuhan, “Tuan, Kamu tahu Aku percaya padaMu lebih dari apapun, seperti kebenaran. Sudah kukatakan lewat tulisan-tulisan dan perjuangan yang Aku dan teman-teman tunjukkan lewat Album pertama saya: Ahimsa. Namun, jika saat ini, Engkau memintaku untuk ikut angkat senjata dan mengajak yang lainnya untuk berperang membunuh mereka yang membenci Engkau, maka ijinkanlah Aku untuk membakar dan menulis kembali dasar kebenaran yang sudah Aku yakini dan tuangkan ke dalam bentuk album musik yang sempat berada di puncak tangga lagu Amerika selama setahun penuh itu.”

Setelah mendengar itu, Tuhan menengok jam tangannya. Kemudian segera berpamitan kepada Gandhi. Tak lupa, Gandhi memberikan album Ahimsa dan menyampaikan titipan salam dari Bob Dylan, Phil Ochs, dan John Gorka. Tuhan kemudian naik kembali ke Surga. Ada rasa kesal di balik wajahNya karena merasa dikuliahi oleh si bocah botak pahlawan garam atau apalah itu.

Sesampainya di Surga, Jibril yang sejak tadi menunggu Tuannya kembali dengan cemas segera bertanya mengenai hasil blusukan Tuhan tadi. Tuhan membalas berbagai macam pertanyaan Jibril dengan jawaban, “Semoga Gandhi dan kawan-kawannya yang jarang potong rambut itu bertengger terus di tangga lagu MTV.”

Jibril tak mengerti maksud jawaban Tuannya itu, kemudian ia bergumam, “Mungkin Tuhan lelah.”

 

 

– Salatiga, Oktober 2014

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s