Post-Apokalipto

Air bergelagak di buritan penuh muatan
muatan nista dan ingatan
di pelipis kisah dan gemerincing zaman
Yang mungkin pada sediakalanya hening menanti kebisingan bisu
Dalam kepicikan ranting berbuahkan pilu,
iba di ibu, riba me-ngilu

————-

Suatu saat di ketika
Relung setiap manusia Maluku menyimpan tanya
Setelah sekian lama berkecamuk pada semerbak norma dan negara-negara
Mencabik-cabik sari-pati sejarah dan titian

gugur berkelindan
seperti kering daun sagu di senjakala pancaroba
setipis kulit tifa tua di tiang rumah adat yang nyaris tak punya nama
luntur disapu hujan bimbang
membasuh kerumunan
menistakan sagara hingga jumantara
mengabur caya di telapak jendela para tetua

Di tengah riuh rendah teriakan-teriakan
Di pusaran badai pengulangan atas ingatan
Di hamparan tuntutan pemugaran dan penyegaran
Di gaduhnya tarian keterpanggilan

gema nyaring Kearifan Lokal
segala-galanya banal bak gelombang menyapu batas kanal
menggunungkan kebingungan dan gelagap
menggelapkan limbung diharap
Menasbihkan lambung berkerangka kalap
menarikan lanun menyematkan kualat

menerbitkan selaksa angkatan tanpa muka
cerai-berai dimainkan warna, luka
tangan di tinta
Kacau balau pantang dipinta
yang mana cinta, yang mana jika
tapal batas nilai ‘nusia tiada kentara
dan sekat penanda menebal di kini dan kala

———–

Dan

Semua sampah apokaliptik yang tersembunyi
dalam palung hati insani
semakin dikukuhkan lewat nafas nan tirani
Hadist dan pegangan, semacam firman

dimuntahkan bulat-bulat para keparat yang mulai renta kini
menyemai kesumat konflik dua saudara seumpama sampar busung lapar,
di atas mumi keterasingan yang enggan dirempah
kemudian tercekat dan tumbuh dalam ketidak tahuan yang menggelepar

bermeteraikan amarah dan retorika
berkandung angin di benak pucuk gemah ripah
Oleh sebab mereka yang kini beranak cucu
mengerat lupa dan menolak ingatan
menjerat buta dan menalak kebenaran
menepiskan lubang-lubang tanya
berjubah iman yang telah lama membatu
meneruskan kristal-kristal buram prahara sebagai penjuru
sebagai warisan, di samping riwayat nihil harta, agama, dan marga
kanonisasi kebodohan
penolakan demi penolakan
kilau sembilu berujung akan
samar sangkakala penghabisan

——

Hingga pada suatu masa tiba
dan anak-anak itu menjadi rindu
kembalilah mereka pada rahim ibu
namun rahim itu tidak ada di sana
karena sang ibu tak pernah mengandung para pendusta

lalu anak-pinak menjadi panas dan kadung
sehingga sumpah serapah mulai disabdakan
berulang, gelagapan

kerinduan akan nama dan sejarah merancu
yang dengan persekongkolan waktu,
Nunusaku, Alifuru, Maluku, Satu Darah -pun berubah wujud
menjadi papan nama, totem, dan gada
yang diarak di mana-mana
ke seluruh mata angin
tanpa menjejaki kaki tiga kali
tanpa menatap timur langit wajah kembali

lancung terjun bebas dalam inisiasi perang label di siraman lampu sorot pelaku pasar
Dijajakan di setiap penjuru
Diterjemahkan dalam praktik lingustik dan karakter
Mewujud sebagai tulang punggung simbolik di kancah eliminasi semantik-semantik dan nilai guna
Lantang di runyam lidah dan nada
Bergemuruh bak beliung laut yang menebas palung keheningan Banda
suluh yang meredupkan liang setiap dada
keberadaan nyala yang mana

parang dan salawaku
darah dan cakalele
Kabaresi, seng bisa pele,
Sebagai sintesa
Oleh sebab: Kami sebenarnya tak tahu untuk apa semua kiranya!

——

Manusia-manusia Maluku di tepian zaman
Yang tersengal mengukuhkan jemari yang gemetar kepada leluhur yang tak ia kenal
Yang terhimpit di tengah amuk jeram yang harus ia lawan
Ringkih dan sendu,
di lembah asas jati diri, nilai tukar ekonomi, dan bahtera modernisasi ide serta ketuhanan
di sengkarut politisasi sejarah dan sejarah politisasi
Oleh sabda kekinian di balik topeng hitam birokrasi
Dengungan penasbihan modal, jeda pariwara lima tahunan
yang nantinya, dengan beramunisikan kewenangan dan legislasi,
menukarkan petak-petak tanah turun-temurun  menjadi pundi-pundi
menjajakan tirai laut, selat, hingga teluk
menafikan kedirian
menterjemahkan sejarah, identitas, dan budaya ke dalam berbagai bentuk
digaungkan dengan puitik dalam bahasa politik
bahan dasar yang diramu menjadi katalisator kukuhnya tugu patriotisme karatan
manipulasi berdampak luka di tiap persimpangan

—————–

Sebuah titik nadir kekosongan yang stagnan
ketika senyap dihembuskan dari setiap sudut kawanan
maka yang tersisa adalah
manusia muda maluku yang teguh berdiri
berpijak dan makin mengeras pada fondasi-fondasi fiksi
Dalam balutan Cele, Gandong, Pela, juga senandung Adat Istiadat
lantangnya semboyan: katong samua basudara!
Sambil menghapus dahaga di bawah rindang beringin besar:kebaruan tanpa tanding, etalase Pusat Belanja, dan patokan usang sisa kolonial
Sebagai pelarian dari kenabian yang sudah terlanjur lebam dan kebal

Hujan api dan gelegar jerit termudah pada panjangnya hikayat perubahan
Kukuh, puritan, ber-nas walau sayup
kekal dan menolak redup

~ Bumi, Januari 2015

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Post-Apokalipto

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s