Exodus

Ambon, Selepas Laha, Maret 2005

 

Mama yang kukasihi, surat ini kutuliskan di kala yang sebelumnya mungkin belum kunjung tiba.

Amboina dan Jakarta bersekatkan jarak yang menelan berpuluh-puluh mil laut, bertumpuk-tumpuk mil darat. Sementara aku, di antara cemas dan rindu mengabarkan sekadarnya jikalau tersempatkan. Jadi, mari, kuteruskan cerita ini padamu.

Lelaki yang kuberitahu kemarin, mama, yang sedia menghantar dari labuhan menuju Amboina. Dari Laha, sampai ke Perigi Lima. Simon namanya, beranak dua, berasal dari Saparua, Maluku Tengah –aku juga tak tahu, itu di mana. Logatnya aneh, tutur katanya kasar, tubuhnya kekar berlabur sisa luka di beberapa tempat. Yang dalam perjalanan, diceritakannya –yang menurut penuturannya- adalah akibat luka perang.

Dahulu, sudah bekerja ia. Di salah satu kantor milik pemerintah. Di Amboina juga. Namun, setelah konflik yang melanda di penghujung dekade membalikan laju hidupnya. Bagai angin timur di ujung pancaroba. Kecamuk itu tiba-tiba, tak terelakkan pula. Harta lenyap, sanak saudara hilang berujung senyap. Lalu kini jadi supir taksi ia. Hidup menduda.

Kota yang tadinya membuatku terpana dengan desir-desir laut yang baru saja membuatku senang girang, mendadak menorehkan suatu apa. Perihal. Lain, lain sekali dari.

Ah, benar, perjalanan menuju Perigi Lima, akan kuceritakan padamu, ada banyak tempat yang kulalui sebelum tiba di sana. Untunglah Simon, sang supir taksi itu, dalam logat melayu-indonesianya yang ganjil itu, menyempatkan diri tuk’ bertutur tentang. Akan kugambarkan padamu sekenanya nanti.

Mama, di sini bagus sekali. Tebing-karang, bakau, dan pohon ketapang. Kemolekan teluk yang dikawal rumah-rumah penduduk. Teluk yang pada ratusan tahun lalu dikerubungi kapal-kapal dagang eropa. Aroma laut dan masygul.

Suatu keganjilan bagi kita, penghuni Jakarta. Magisnya sihir panorama bertumpang tinding dengan sisa-sisa tragedi. Percampuran suasanya yang canggung.

Entah apa yang kan kujumpa kelak.

 

Anakmu, William Thomas

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Exodus

  1. Leli says:

    Masih untuk Mama yah🙂 bagus, seperti dialog, meski satu arah. serasa diajak ngobrol. hehe

  2. eqoxa says:

    rasanya pengin ke Ambon, Maiki. Surat cintamu ini antik. tetap nulis yaaaa

    -ikavuje

  3. Pingback: Leviticus | Peluru Aksara

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s