Leviticus

Jakarta Pusat, Menteng – Pasuruan 24, Maret 2005

 
 

Will, anakku William.
Suratmu telah tiba di tanganku. Hatiku tenang, karena tahu kau telah tiba dengan selamat. Hatiku senang, karena sempatkan beri maklumat.

Semoga apa yang kau temui, seperti yang sudah kau ceritakan dalam suratmu itu, dapat memberikan suatu apa yang tak kau temui di tempat lain. Menganugrahkan nilai-nilai dan kebaruan. Memberikan ilmu dan perenungan. Menjentikkan pengalaman dan pengalaman. Akan hidup manusia, pula ketuhanan.

Will, anakku sayang. Sebenar-benarnya, dalam hati kecil ada cemas ketika kau pilih ‘tuk jalani vikariat di sana. Amboina, tempat yang jauh sekali. Tempat yang tak asing di nama, namun tidak di indra. Akan tetapi kecemasan demi kecemasan kusimpan rapat-rapat sampai dalam waktu belakangan –ketika kau pergi- membikin rasa rindu padamu menjadi-jadi. Rasanya baru kemarin kau aku ajarkan membaca, kau kuantarkan ke sekolah. Namun kini telah jauh sekali dari rengkuh. Tapi aku percaya, semoga Tuhan yang telah melindungi kita turun-temurun itu menjaga.

Setiap kali senggang, di beranda, kala sore menyeruak penghujung hari dengan jingga yang merobek mega-mega.  Aku ambil kembali buku-buku tua, yang dahulu gemar kau baca di masa kanak –dan aku di bangku menunggu akademik selesai ditanak; Sembari membalik-balik lembar-lembarnya.

Menebuskan kesepian yang mulai merayap pelan di dinding-dinding rumah. Dan hatiku rasa-rasanya remuk dihantam rindu. Rindu ibu pada putranya.

Dan Pushkin yang berdua kita kagumi itu, tak henti-hentinya menghujamkan tinju lewat kata-kata, membarakan keberadaan kau yang mana:

“Demi tepian pantai tanah negeri yang jauh. Kau tinggalkan tempat lain;”

 

 

Teguhlah anakku, bagai karang besar di kulit samudra.
Biarkan rindu ibu jadi nyala dan kasih Tuhan sebagai gada.

 

Aku yang sangat mengasihimu,
Rosemarry Brigita

 

 

Surat Sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Leviticus

  1. ikavuje says:

    ibumu sungguh sakti Maiki, aku kudu berguru agar kian sehebat ia

  2. Pingback: Numbers | Peluru Aksara

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s