Numbers

Ambon, Perigi Lima, Maret 2005

 
 
 
Kawanku, Mulyanto

(yang mungkin sedang sibuk melinting rokok karena hendak menyeimbangkan kesehatan diri dan kesejahteraan buruh tembakau; Atau mengetok-ketok palu di bemper motor ber-persneling tiga, yang menjadi saksi kekuatan romantisme warisan dan penghematan nilai guna)

Kawanku yang baik, sesampainya di tempat tinggalku yang baru, aku segera menuliskan surat ini kepada engkau. Sekedar memberi tahu perihal setibanya. Barangkali, selain keinginan untuk memberikan kabar, ada sejumput hal-perihal lain yang mengendapkan alasan demi alasan. Alasan yang jika nantinya aku jelaskan padamu, mungkin saja kau tak mengerti. Karena aku pun demikian.

Ambon. Tempat dimana aku kini berada sungguh jauh di luar nalar masyarakat metropolis seperti kita. Di sini, banyak keganjilan demi keganjilan yang kutemui kawan. Sisa-sisa konflik berpadu dalam kebahagiaan materiil dengan kesumat komunal yang hening. Mengendap dalam kesepian jiwa selaksa manusia yang teralienasi ke dalam palung batinnya masing-masing.

Kawan sebelah kamar tempatku kini tinggal, menceritakan banyak hal padaku. Ganjil. Perihal kampung halamannya, Amahai –itu nama desa di Maluku Tengah, kawan.

Bisakah kau bayangkan, di kala panen cengkeh, perayaan-perayaan terjadi dalam bentuk yang tak bisa kau duga. Berkarton-karton bir dibeli, untuk kemudian dipakai sebagai air kobokan sebelum dan atau sesudah makan. Sebuah perayaan yang andai saja dapat kau lihat, membuat geram sosialis-surgawi tulen macam kau setengah mati.

Namun, itulah hidup dengan segala riuh-rendahnya, kupikir.

Dari sedikit waktu yang ada, belum bisa kukabarkan banyak. Sedangkan, aku masih harus mengurus tete-bengek legislasi, guna mulai menapak titian menjadi pelayan Tuhan.

Jadi, bagaimana keadaanmu di sana, kamerad? Kudengar, Indramayu sedang musim mangga. Mungkin dengan bermodal idealismemu yang berkobar-kobar bak Kumis Lenin itu bisa kau gunakan nantinya demi pembagian sama-rata-sama-rasa profit panen bagi para petani.

Jangan marah, kawan. Hanya bercanda.

 
 
 

William Thomas

 

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Numbers

  1. eqoxa says:

    kawanmu yang baca ini mungkin berkata “bangke kau mike” sambil tersenyum tanpa bisa apa-apa. hahaha
    semangaaattttt maikiiii
    -ikavuje

  2. Pingback: Peluru Aksara

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s