Deuteronomy

Ambon, Teras Rumah-Perigi Lima, April 2005

All that was my struggle’s and pride’s motion,
All that made my world a new and close,
Now for me, is roar of the ocean
And full-emptiness of the ringing shores.

–    Bait ke 3, “I did not Seek the Other Forune’s Favor” -Vsevolod Rojdestvensky

Mama yang kukasihi, larik Pushkin yang kau meteraikan kemarin padaku, hendaknya ingin sekali kubungkamkan dengan tadi.

Perjalan jauh benar ke mari. Ada banyak nama tempat yang ganjil, mama. Batu dan Air. Rerumputan yang memakan sisa bongkahan beton, kuburan tentara Australia, dan remah rumah ibadah. Menyebar bagai bibit ilalang di sepanjang. Berganti-ganti dengan biru laut dan genit ombak yang merayu karang. Sisa-sisa perang dan janin semangat dari manusia yang hendak bangkit ulang dari genangan tulang-belulang.

Aku sudah mencatat perjalanan itu tersendiri, nama-nama dan suasana. Panjang sekali, banyak sekali.

Jadi suratku yang kali ini, Ma, kutuliskan sembari duduk-duduk di depan teras rumah. Tempatku bernaung. Tenggelam bersama waktu dan pembaruan. Sementara itu, dua jam telah melaju cepat mendahulu di kotamu. Namun waktu tak selamanya sepadan dengan ruang.  Seperti itulah yang kudapati kini.

Sejak pagi benar, aku, menyeduhkan kopi hitam dan menjerangkan semua apa yang dapat ditelan indra bulat-bulat. Pagi yang lain, tinimbang.

Subuh dihantar oleh derap pasukan tentara yang berlari berkawal yel-yel. Mendekapkan senjata di dada. Tangan kekar  yang menyimpan keganasan, menebarkan cemas sejak pagi buta, di jalan aspal yang membentang di depan rumah. Seberang, berdiri kantor polisi. Ada kolam ikan di depannya, air mancur tak lupa. Di samping ia, seonggok rumah yang mulai termakan usia. Milik keluarga Ririhena. Berpagar kayu yang melapuk, berkawal rumpun gadihu. Berpintu kayu polos, bertudungkan seng yang enggan ditelan karat.

Lalu semua itu terhapus lamat-lamat oleh matari yang menyingsing dari balik rumah. Menyapu sekaratnya malam dengan ansambel derap senjata. Menghadirkan lanskap baru; anak-anak lewat.

Dengan seragam dan tas, berkelompok-kelompok. Lewat sambil membawa orkestrasi kebahagiaan. Dari mulut-mulut mereka dapat kudengarkan tawa dan persahabatan. Kelucuan demi kelucuan –yang sedikit banyak tak kumengerti. Tak ada yang lebih baik dari ini yang dapat jadi penawar. Sebagai intro atas orkestrasi bunyi rantai besi becak-becak yang datang dan mulai bersandar di tepiannya.

Di samping rumah ini, ada tanah cukup luas. Aku hendak menanam ubi dan sayur. Ketela dan kangkung. Lagipula, masih menunggu aku, sampai pihak Gereja menetapkan waktu kapan meniti tonggak tongkat penggembala.

Jadi, janganlah kau lupa, mama. Kabarkan aku tentang dan segala. Jakarta dan Jawa. Raga dan jiwa.

Anakmu, William Thomas

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Deuteronomy

  1. eqoxa says:

    tetap nulis maiki, semangaaattttt
    -ikavuje

  2. Pingback: Joshua | Peluru Aksara

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s