Samuel

Ambon, Sore hari-Perigi Lima, April 2005
 
 
 
Mama, yang kukasihi,
Beberapa hari telah lalu, lahan tuk bertanam di samping rumah sudah kusemai. Setengah urus-urusan mengenai pelayanan yang kudus telah tunai.
 
Aku menyurati, dari depan kios kecil di samping tempatku tinggal. Menengadahkan muka pada senja yang luntur pelan-pelan di dinding langit barat. Bersama riuh-rendah mobil yang berseliweran. Berhiaskan teriakan kondektur yang rebut-rebutan memanggil penumpang. Sejurus tadi, penjaja panganan lewat; dengan wangi sukun, singkong, dan pisang goreng. Tertutup sarbet putih di atas nampan besi yang ditembusi minyak goreng di beberapa tempat, dijual seribu rupiah-satunya, dan sambal sebagai pelengkap, diberikan cuma-cuma.
 
Ada juga anak-anak lewat, sepertinya dari Silale –tempat di dekat sini. Lengkap dengan kostum sepakbola mancanegara. Warna-warni macamnya. Sambil menendang-tendangkan bola plastik. Melintas menuju depan sekolah yang tak jauh dari aku. Adalah hal yang biasa, ketika matahari sore telah lemah menerik. Para pemuda Silale itu, datang ke sini, lalu bersama dengan pemuda-pemuda Perigi Lima, bermain bola. Tidak ada lapangan, mama. Biasanya mereka bermain di atas aspal. Yang oleh karenanya, jika ada kendaraan yang hendak lewat, maka permainan haruslah dihentikan barang sejenak. Tapi, permainan sore biasanya ramai sekali. Mereka bermain berganti-gantian. Tim yang gawangnya dijaringkan bola, harus keluar dan digantikan yang lainnya. Lima lawan lima, biasanya. Permainan yang asik sekali. Ramai. Tawa dan maki kadang terdengar, tapi itu bukan masalah, mama. Yang baik adalah, mereka berbeda agama. Tapi tidak, aku tak melihat sisa-sisa konflik di atas aspal yang diapit gawang yang dibuat dari tumpukan batu itu. Hanya tawa dan kesenangan darinya. Dan permainan mereka akan dihentikan dengan lambaian tangan dan janji untuk bermain kembali di esok hari, dengan adzan maghrib serta matahari yang sayup-sayup sebagai penanda waktu berhenti.
 
Kemudian, malam berganti. Jalanan akan menyepi, lampu-lampu jalan mengganti, menyebarkan cahaya kuning muram di atas wajah jalanan. Kendaraan yang lewat hanya sesekali, dan tukang-tukang becak akan datang, berkumpul, lalu bercengkrama sambil meminum kopi. Keramaian hampir dapat kusebut tiada. Hanya sesekali, bunyi dari toa kantor polres di seberang jalan bersuara; memberikan aba-aba, yang kemudian disusul derung mesin. Dan jika, warga tak mengadu kepada, maka demikianlah heningnya sampai pagi berganti kembali. Dan ini waktu dimana aku membaca atau merenung-renungkan.
 
Kuceritakan panjang lebar, sebisanya, agar mama tak berwalang hati.
Ambon, tak semengerikan itu.

 
 
Anakmu, William Thomas.

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s