Kings

Ambon, 5 Mei 2005

 
 
Kepada, William Thomas,
 
Entah kamu mengingatku atau tidak. Jika demikian, maka tentu sore itu, di pelataran gereja Rehobot tak kau lupa. Kita sempat bertemu mata. Walau kemudian, aras pandangmu tak lagi menyentuhku, maka berlainan aku.
 
Aku masih menatapmu lekat setelahnya. Maka sebutlah ini tanya. Namun, ada racun manis yang menyeretku ke kedalaman bola yang hitam pekat, bertatahkan cahaya berkilau-kilau. Seakan memenjarakan rahasia dan keriangan yang muncul. Lalu di waktu yang lain, ia tenggelam.
Atau, aku tersesat di lajur rambutmu hitammu yang menebal. Yang pada lain hari, menghempaskan aku untuk meluncur turun di sudut relung pelipismu. Namun, siapa aku? Sementara menatap matamu saja, menengadah aku pada jenjangmu.
 
Maka, sebutkanlah ini kedegilan akal yang tak aku ketahui. Dan kekacauan ini, telah kutitipkan kepada sang kostor.
 
Aku berdoa kepada Tuhan, supaya di saat surat ini kau terima. Aku tidak sedang berada di dekatmu.
 
Kelu dan malu aku.
 
 

Dessy Margaretha Geertruida

Surat sebelumnya bisa dibaca di sini.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s