Mendekati Teru: solum, voda un aria

moro

Teru tak bisa didengarkan, Teru bukan musik, Teru adalah puisi-manifesto yang berbunyi.

Pada tahun 1897, Alphonse Allais, penulis asal Perancis menuliskan sepotong komposisi musik berisi dua puluh empat bar keheningan berjudul Funeral March for the Obsequies of a Great Deaf Man. Lima puluh lima tahun kemudian, John Cage ‘seakan’ melanjutkan apa yang dilakukan Allais, dengan merilis karyanya yang ‘monumental’ yang berjudul 4’33; ‘keheningan’ tiga babak yang berlangsung selama empat menit, tiga puluh tiga detik. Yang dilakukan Cage selama itu, hanya duduk diam di depan piano. Suara yang terdengar selama ‘atraksi’ itu berlangsung hanyalah bunyi engsel penutup tuts, timer, dan suara – suara yang berasal dari penonton. Atraksi Cage tadi, bisa dibilang, meruntuhkan pemahaman orang kebanyakan tentang wajah dan rupa komposisi musik.

Memaknai Teru, kalau boleh dibilang seperti itu, adalah langkah selanjutnya dari komposisi 4’33 oleh Cage tadi. Andaikata, kita menganggap Cage berada pada titik 0 (nol), maka Teru menyeret kita untuk beranjak dari sana, ke titik -1 (minus satu).  Hal pertama yang harus diruntuhkan adalah pemahaman, yang mana lebih banyak didominasi oleh ekspektasi terhadap sebuah musik (mainstream). Menarik diri untuk tercerabut dari ruang – ruang yang telah kita tempati.

Teru bersama semua lagunya yang berada di album ini, mewujud dalam sebuah tanda dan penanda sekaligus; perihal musik, sejarah, identitas, dan realitas yang tumpang tindih dalam diri seorang manusia yang Maluku. Manusia (Maluku) yang mengapung di tengah sejarah yang jauh dari dirinya; Identitas yang semakin sayup, seperti bunyi denyut di sepanjang lagu Sufe. Namun, di tengah kebingungan tadi, titik-titik terang masih sering muncul, walau bunyinya terdengar lebih sayup-sayup dan muncul secara tak diduga-duga. Lagu Sufe, membuka album dengan sangat indah dan membingungkan sekaligus. Sufe adalah pintu yang nantinya akan membawa kita ke dua ruang yang berbeda mengenai bagaimana kita ‘berhadapan’ dengan lagu – lagu (atau lebih tepat disebut mantra?) selanjutnya di album ini nantinya (Moro, Sanas, Tonaka, dan Gebuse); lewat wajah Terang atau Gelap.

Jika memang –dengan sangat terpaksa-  harus menempatkan Teru dalam konstelasi genre musik, maka, mungkin, Teru berada selangkah di depan Krakatau (Rhytm of Reformation), di ruang yang bersebelahan dengan Petri Kuljuntausta (Momentum) dan Godspeed You! Black Emperor, namun reflektif tapi tidak sesamar Cage (4’33).

Sekali lagi, Teru bukanlah pengalaman mendengarkan musik. Teru mungkin akan terasa sangat membingungkan jika harus didekati dengan cara seperti itu. Teru tak bisa didengarkan, Teru adalah pengalaman. Teru, sadar tidak sadar, telah memberi tanda dalam peta sejarah musik Indonesia dengan menawarkan sebuah pendekatan baru lewat bunyi terhadap kultur, budaya, dan sejarah sekaligus.

Tanbihat 1: Sengaja tidak mau menulis tentang lagu-lagu lain yang ada di album ini. Bukan karena tidak mau, tapi, pada keadaan tertentu, hal itu bisa memenjarakan makna dari lagu-lagu tersebut. Teru, secara pribadi, adalah suatu pengalaman reflektif-subjektif.

Tanbihat 2: Kepada Teru, untuk sementara, tulisan dulu. Belum ada peralatan memadai untuk mengambil gambar, pak! Maklum, di kampung, musim bercocok-tanam. Hiks.

– Jogjakarta, Dua ribu enam belas.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s